Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing, China, Rabu (20/5), untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama dua hari dan bertemu Presiden China Xi Jinping. Kunjungan ini menjadi sorotan dunia karena berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan lawatan resminya ke Negeri Tirai Bambu.
Momentum kedatangan Putin dinilai bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Pertemuan dua pemimpin negara besar tersebut mencerminkan semakin kuatnya hubungan strategis Rusia-China di tengah dinamika geopolitik global, mulai dari perang Ukraina, konflik Iran-Israel, hingga rivalitas Beijing dan Washington.
ADVERTISEMENT
Berikut tujuh poin penting di balik kunjungan Putin ke Beijing:
1. China Tunjukkan Posisi sebagai Pusat Diplomasi Dunia
China untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah bagi pemimpin Rusia dan Amerika Serikat dalam bulan yang sama di luar forum multilateral. Langkah ini memperlihatkan posisi Beijing yang semakin dominan dalam percaturan diplomasi global.
Pengamat menilai China sedang membangun citra sebagai kekuatan besar yang mampu berhubungan dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara yang saling bersaing secara geopolitik.
2. Hubungan Putin dan Xi Semakin Erat
Hubungan pribadi Putin dan Xi Jinping disebut menjadi salah satu faktor utama kokohnya kerja sama Rusia-China. Kedua pemimpin telah bertemu lebih dari 40 kali dalam berbagai kesempatan sejak beberapa tahun terakhir.
Menjelang keberangkatannya ke Beijing, Putin bahkan menyebut Xi sebagai “teman baik lama” dan menegaskan bahwa hubungan kedua negara telah mencapai “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
3. Fokus pada Energi dan Proyek Pipa Gas Raksasa
Salah satu agenda utama pertemuan adalah pembahasan kerja sama energi, termasuk pasokan gas dan proyek pipa “Power of Siberia 2”.
China dinilai membutuhkan pasokan energi Rusia dengan harga lebih murah, sementara Rusia semakin bergantung pada pasar China akibat sanksi Barat terkait perang Ukraina.
Selain itu, kedua negara juga diperkirakan membahas peningkatan perdagangan bilateral yang nilainya disebut telah melampaui 200 miliar dolar AS, dengan transaksi yang kini banyak menggunakan rubel dan yuan.
4. Rusia Dinilai Semakin Bergantung pada China
Sejumlah analis menilai posisi Rusia saat ini lebih bergantung kepada China dibanding sebaliknya. Perang Ukraina dan sanksi ekonomi Barat membuat Moskow membutuhkan dukungan ekonomi, teknologi, hingga akses pasar dari Beijing.
Pengamat dari Chatham House, Timothy Ash, bahkan menyebut Putin datang ke Beijing dengan posisi sebagai “mitra junior” yang membutuhkan dukungan Xi Jinping.
Meski demikian, Rusia dan China tetap menegaskan bahwa hubungan mereka bukan aliansi militer dan tidak ditujukan untuk melawan negara lain.
5. Konflik Iran dan Timur Tengah Jadi Agenda Penting
Kunjungan Putin berlangsung di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang berdampak terhadap pasar energi global.
China dan Rusia disebut memiliki kepentingan yang sama untuk mendorong stabilitas kawasan dan menghindari eskalasi perang lebih luas. Beijing juga dinilai tidak ingin meninggalkan Iran maupun Rusia demi mendekat ke Amerika Serikat.
Situasi di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik tersebut turut menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap jalur distribusi energi dunia.
6. Perang Ukraina Tetap Dibahas, Tapi China Tidak Akan Menekan Rusia
Isu perang Ukraina dipastikan menjadi bagian dari pembahasan Putin dan Xi. Namun para analis menilai China tidak akan memberikan tekanan keras kepada Rusia.
Beijing diperkirakan tetap mempertahankan posisi resminya yang menyerukan dialog dan penyelesaian damai, sembari tetap menjaga hubungan strategis dengan Moskow.
China juga membantah laporan media Barat yang menyebut Xi Jinping mengatakan kepada Trump bahwa Putin mungkin akan menyesali invasi ke Ukraina.
7. Beijing Ingin Tampil sebagai ‘Kekuatan Netral’ Dunia
Dengan menerima kunjungan Trump dan Putin secara berdekatan, China ingin menunjukkan diri sebagai kekuatan global yang mampu berkomunikasi dengan semua pihak.
Strategi ini dinilai menjadi bagian dari upaya Beijing memperkuat pengaruh internasionalnya di tengah dunia yang semakin terfragmentasi akibat konflik geopolitik dan rivalitas antarnegara besar.
Selain bertemu Xi Jinping, Putin juga dijadwalkan menemui Perdana Menteri China Li Qiang guna membahas kerja sama perdagangan dan ekonomi. Kedua negara juga diperkirakan menandatangani sejumlah kesepakatan strategis serta pernyataan bersama usai pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Sumber : https://www.aljazeera.com/features/2026/5/19/neutral-superpower-china-why-putin-visit-to-beijing-after-trump-matters