Jakarta – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menghentikan operasi penyelaman dalam pencarian dan pertolongan (SAR) korban kecelakaan KM Virgo Transport 8. Keputusan tersebut diambil setelah kondisi korban dan struktur kapal mengalami perubahan sehingga operasi bawah air dinilai tidak lagi efektif dan berisiko bagi keselamatan penyelam.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, pada beberapa hari pertama operasi SAR, jasad korban yang berada di dalam kapal masih memungkinkan untuk dievakuasi dan diterima oleh tim di permukaan laut.
ADVERTISEMENT
“Pada beberapa hari pertama kondisi korban yang dievakuasi dari dalam kapal yang tenggelam masih memungkinkan untuk terapung, sehingga ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal, korban dapat diterima di atas air laut dengan komunikasi yang dimiliki tim,” kata Syafii, dikutip dari Antara, Minggu (10/4/2026).
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah seiring dengan perubahan struktur badan kapal yang terjadi selama operasi pencarian berlangsung.
Menurut Syafii, korban yang ditemukan di dalam kapal kini berpotensi terurai ketika dikeluarkan dari lokasi. Kondisi itu membuat proses evakuasi melalui penyelaman menjadi tidak efektif untuk dilanjutkan.
“Jika pada hari-hari sebelumnya korban dapat naik dengan sendirinya setelah dikeluarkan, kini korban dapat terurai ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal. Karena itu, tidak efektif kalau operasi underwater ini kita teruskan dalam kondisi sekarang,” ujarnya.
Basarnas kemudian berharap pemilik kapal segera melakukan operasi salvage atau pengangkatan badan kapal. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keberadaan korban yang kemungkinan masih berada di dalam kapal.
Dengan badan kapal diangkat dari dasar laut, proses pencarian dan evakuasi korban diharapkan dapat dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan.
Syafii mengatakan, kemampuan maksimal penyelam untuk melakukan pencarian di badan kapal telah dikerahkan. Namun, dalam tiga hari terakhir tidak ditemukan korban tambahan.
“Kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal telah dilakukan, dan tiga hari terakhir ini tidak menemukan korban lagi,” tuturnya.
Bagian Kapal Masih Belum Tersentuh
Meski operasi penyelaman dihentikan, Basarnas menyebut masih terdapat sejumlah bagian kapal yang belum dapat dijangkau penyelam. Salah satunya adalah bagian lambung kiri kapal.
Kondisi badan kapal yang semakin labil menjadi salah satu pertimbangan utama penghentian operasi bawah air. Situasi tersebut dinilai dapat membahayakan keselamatan para penyelam apabila pencarian tetap dipaksakan.
Basarnas kemudian melakukan evaluasi terhadap operasi SAR yang telah memasuki hari ke-21. Setelah evaluasi, operasi SAR tetap dilanjutkan dengan mengubah fokus pencarian.
Pencarian selanjutnya diarahkan ke wilayah perairan yang berpotensi menjadi lokasi korban hanyut terbawa arus laut, meliputi perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
55 Korban Masih Dicari
Hingga hari ke-21 operasi SAR, Sabtu pukul 22.00 WITA, Basarnas mencatat sebanyak 188 orang telah ditemukan dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan 80 orang lainnya dinyatakan meninggal dunia.
Sementara itu, sebanyak 55 korban masih dalam proses pencarian.
Dengan dihentikannya operasi penyelaman, Basarnas akan memaksimalkan pencarian di wilayah perairan yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban. Operasi SAR tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan aspek keselamatan seluruh personel yang terlibat.