Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah menyiapkan sebuah kesepakatan baru yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang sebelumnya sempat ditutup Teheran di tengah konflik kawasan sejak akhir Februari lalu.
Informasi tersebut pertama kali dilaporkan media AS, Axios, dengan mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui isi draf nota kesepahaman antara Washington dan Teheran. Namun hingga kini, baik pemerintah AS maupun Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut.
ADVERTISEMENT
Menurut laporan itu, kesepakatan yang diusulkan masih belum difinalisasi dan berpotensi mengalami perubahan sebelum resmi ditandatangani. Seorang pejabat AS juga mengingatkan bahwa proses negosiasi masih dapat gagal sewaktu-waktu.
Sementara itu, laporan The New York Times (NYT) menyebut kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Proses pengesahan disebut dapat memakan waktu beberapa hari ke depan.
Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz yang selama perang praktis ditutup. Teheran juga akan membersihkan ranjau di wilayah perairan itu dan mengizinkan kapal-kapal internasional melintas tanpa pungutan tol.
Sebagai imbalannya, AS dilaporkan akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberikan pengecualian sanksi terbatas. Kebijakan itu memungkinkan Iran kembali menjual minyak secara bebas selama masa perpanjangan gencatan senjata berlangsung.
Seorang pejabat AS menggambarkan skema tersebut sebagai “bantuan berdasarkan kinerja”, di mana pelonggaran ekonomi hanya diberikan setelah Iran menjalankan komitmen tertentu dan bukan diberikan di awal kesepakatan.
Tak hanya soal perdagangan dan keamanan maritim, draf perjanjian juga mencakup isu program nuklir Iran. Dalam poin tersebut, Iran disebut berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, serta bersedia menegosiasikan penangguhan pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.
Meski demikian, pelonggaran sanksi yang lebih luas maupun pencairan dana Iran di luar pengecualian sementara disebut baru akan dibahas lebih lanjut selama periode gencatan senjata berlangsung. Implementasinya pun hanya akan dilakukan apabila kesepakatan final berhasil dicapai dan diverifikasi.
Selama masa gencatan senjata diperpanjang, pasukan AS di kawasan Timur Tengah juga disebut akan tetap berada di posisinya. Penarikan pasukan baru akan dilakukan apabila kedua pihak mencapai kesepakatan permanen.
Kesepakatan ini juga dikaitkan dengan upaya meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Dalam draf tersebut, Israel disebut masih diperbolehkan mengambil tindakan apabila Hizbullah kembali mempersenjatai diri atau melanjutkan serangan.
Upaya diplomatik ini dilaporkan mendapat dukungan dari sejumlah negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab. Pakistan disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses negosiasi antara kedua pihak.
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2026/5/24/us-iran-inch-closer-to-deal-to-end-the-war-what-to-know