Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa militer AS kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada hari ini. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih pada Rabu (11/6), di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang telah rapuh selama beberapa bulan terakhir.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam setelah menilai Teheran terus mengulur-ulur proses negosiasi terkait upaya penghentian konflik dan kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
ADVERTISEMENT
"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini," kata Trump.
Menurut Trump, Amerika Serikat sebenarnya hampir mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, ia menuduh pemerintah Iran terus menunda proses perundingan dan tidak menunjukkan itikad yang jelas untuk menyelesaikan konflik.
"Kami sangat dekat dengan sebuah kesepakatan, tetapi mereka terus mempermainkan kami. Mereka menganggap kami bisa dibodohi," ujarnya.
Pernyataan Trump muncul ketika sebuah delegasi dari Qatar tiba di Iran dalam upaya diplomatik untuk menjaga jalur perundingan tetap terbuka. Selain Qatar, Pakistan juga disebut masih berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Konflik antara kedua negara kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Gelombang kekerasan terbaru dimulai setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah pulau dan instalasi militer Iran. Sebagai balasan, Iran menargetkan wilayah Bahrain dan Kuwait.
Di tengah eskalasi tersebut, AS sempat mengambil langkah untuk menghentikan konfrontasi antara Iran dan Israel yang dipicu oleh serangan Israel ke Beirut. Namun, Iran tetap bersikeras bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup situasi di Lebanon, tempat kelompok Hezbollah yang merupakan sekutu dekat Teheran masih terlibat konflik dengan Israel.
Sebelumnya, Trump juga menegaskan bahwa dirinya memiliki kendali penuh atas kebijakan Amerika Serikat terkait konflik di Timur Tengah. Ia bahkan menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak memiliki keputusan akhir terkait arah penyelesaian konflik.
Meski demikian, sikap Trump kembali berubah pada Rabu dengan menegaskan bahwa Iran harus segera menyetujui kesepakatan yang telah dibahas selama ini.
"Iran hanya banyak bicara dan tidak ada tindakan. Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk sebuah kesepakatan yang sebenarnya sangat menguntungkan mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya," tulis Trump.
Trump juga mengklaim bahwa Iran pada prinsipnya telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir dan hanya perlu menandatangani dokumen resmi kesepakatan tersebut.
Sementara itu, meningkatnya konflik kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hampir tiga persen dan diperdagangkan di level US$94,11 per barel.
Perang yang berkepanjangan juga mengganggu jalur distribusi energi dari kawasan Teluk. Meski demikian, Trump mengklaim jutaan barel minyak masih berhasil dikirim keluar dari kawasan tersebut pada malam hari. Ia menyebut sejumlah negara Teluk dan Irak telah meningkatkan ekspor minyak mereka meskipun situasi keamanan masih belum stabil.
Laporan sejumlah media internasional menyebutkan bahwa ekspor minyak Irak melalui Selat Hormuz dan pelabuhan Basra mengalami peningkatan signifikan sepanjang bulan ini. Uni Emirat Arab juga dilaporkan meningkatkan pengiriman minyak dengan menggunakan kapal yang mematikan sistem identifikasi transponder saat melintasi Selat Hormuz.
Perkembangan terbaru ini menambah kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak pada stabilitas keamanan kawasan serta perekonomian global.
Sumber : https://www.middleeasteye.net/news/trump-vows-hit-iran-hard-he-pivots-deescalation