Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5). Bank Indonesia menyebut pelemahan mata uang Garuda dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan eskalasi perang di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.
ADVERTISEMENT
“Tekanan Rupiah dalam hari ini meningkat karena di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5).
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Menurut Destry, permintaan valuta asing meningkat untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan masyarakat terkait ibadah haji.
Pada perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat berada di level Rp17.529 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar melalui intervensi terarah, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
Bank sentral juga mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam tekanan terhadap rupiah. Di sisi lain, BI menilai kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik masih terjaga.
Hal tersebut tercermin dari aliran modal asing masuk (capital inflow), khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp61,6 triliun sepanjang April 2026.
Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik dinilai masih cukup kuat. BI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) valas tumbuh 10,9 persen secara year-to-date (ytd) hingga akhir Maret 2026.
Destry optimistis tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman akan mereda dalam waktu mendatang sehingga nilai tukar berpeluang kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.
Pelemahan rupiah sendiri terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang turut berada di zona merah terhadap dolar AS. Peso Filipina melemah 0,57 persen, ringgit Malaysia turun 0,25 persen, dolar Singapura melemah 0,35 persen, yen Jepang terkoreksi 0,27 persen, dan won Korea Selatan anjlok 1,18 persen.
Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mencatat penguatan terhadap dolar AS dengan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, euro Eropa turun 0,31 persen, poundsterling Inggris melemah 0,71 persen, dolar Australia terkoreksi 0,44 persen, dolar Kanada turun 0,20 persen, serta franc Swiss melemah 0,32 persen terhadap dolar AS. *