Ekonomi

Rupiah Jebol Level Rp18.000 per Dolar AS, Ini Respons BI!

TriasPolitica.net

05 June 2026 06:35 • 915 view

Rupiah Jebol Level Rp18.000 per Dolar AS, Ini Respons BI!
Foto: Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS. (Gemini AI)

Bank Indonesia (BI) buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6) pagi. Mata uang Garuda melemah 49 poin atau 0,27 persen.


Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian di kawasan tersebut. Kondisi ini berdampak pada tingginya harga minyak dunia dan memicu meningkatnya risiko inflasi global.

ADVERTISEMENT


“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” ujar Destry dalam keterangan resminya.


Selain faktor eksternal, BI juga mencermati tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Kebutuhan tersebut terutama berasal dari repatriasi dividen perusahaan serta pembayaran utang luar negeri yang masih berlangsung.


Untuk menjaga stabilitas pasar, BI menegaskan akan terus hadir melalui berbagai instrumen kebijakan. Intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.


“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” kata Destry.


Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengoptimalkan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih kompetitif. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.


Bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi lintas negara.


Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara mitra, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Pemanfaatan skema tersebut terus menunjukkan peningkatan signifikan.


Hingga April 2026, nilai transaksi LCT tercatat mencapai sekitar US$22,7 miliar atau hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun 2025 yang mencapai US$25,7 miliar.


Meski rupiah mengalami tekanan, BI menilai pergerakan mata uang Indonesia masih sejalan dengan tren pelemahan yang terjadi di berbagai negara kawasan. Secara year to date (ytd), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen.


Di sisi lain, ketahanan sektor eksternal Indonesia dinilai masih cukup kuat. Cadangan devisa nasional tercatat sebesar US$146,2 miliar pada akhir April 2026, yang dinilai memadai untuk mendukung stabilitas ekonomi dan sistem keuangan nasional.


Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar, perbankan, dan korporasi guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram TriasPolitica.net, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!