Internasional

Timteng Memanas Lagi, Iran Setop Semua Perundingan Damai dengan AS

TriasPolitica.net

02 June 2026 14:34 • 1,015 view

Timteng Memanas Lagi, Iran Setop Semua Perundingan Damai dengan AS
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei. (Google Flow AI)

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan menghentikan seluruh perundingan damai tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut diambil di tengah memanasnya situasi regional, terutama setelah Israel memperluas operasi militernya di Lebanon, yang memicu reaksi keras dari Teheran dan kelompok-kelompok sekutunya.


Sumber yang dekat dengan tim perunding Iran mengatakan kepada media Mehr News pada Selasa bahwa Teheran hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap rancangan kesepakatan akhir yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik antara kedua negara. Menurut sumber tersebut, pembahasan mengenai teks akhir perjanjian masih berlangsung di ibu kota Iran.

ADVERTISEMENT


Iran disebut meninjau proposal tersebut dengan sangat hati-hati karena pengalaman masa lalu yang dianggap menunjukkan ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap berbagai kesepakatan. Teheran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus memberikan manfaat nyata dan terukur bagi kepentingan nasional Iran.


Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran masih dapat tercapai dalam waktu dekat. Dalam wawancara dengan sejumlah media AS, Trump mengatakan dirinya meyakini akan ada kesepakatan yang memungkinkan perpanjangan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.


Namun, pernyataan Trump berbanding terbalik dengan laporan kantor berita Iran, Tasnim, yang menyebut bahwa tim negosiasi Republik Islam menghentikan seluruh pertukaran pesan dengan Washington melalui mediator. Langkah tersebut dikaitkan dengan meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.


Meski demikian, Trump mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait penghentian pembicaraan tersebut. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengatakan bahwa pihaknya tidak diinformasikan mengenai keputusan Iran untuk menghentikan negosiasi.


Trump bahkan menyatakan tidak keberatan jika komunikasi antara kedua negara terhenti sementara waktu. Menurutnya, terlalu banyak pembicaraan justru tidak selalu menghasilkan kemajuan yang signifikan.


Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah harus dianggap sebagai pelanggaran terhadap seluruh kesepakatan yang ada. Ia menuding Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap eskalasi yang terjadi di kawasan.


Situasi semakin mengkhawatirkan setelah Tasnim melaporkan bahwa Iran bersama kelompok-kelompok sekutunya dalam poros perlawanan telah menyusun agenda untuk memperketat tekanan terhadap Israel dan para pendukungnya. Salah satu langkah yang disebutkan adalah upaya memblokade Selat Hormuz secara penuh serta membuka front baru di kawasan Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Terusan Suez.


Laporan tersebut segera memicu reaksi pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak lebih dari lima dolar per barel akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi internasional. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.


Di tengah meningkatnya ketegangan, bentrokan terbatas antara Iran dan AS masih terus terjadi meskipun kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata sejak awal April. Pakistan disebut terus berupaya memediasi kedua pihak guna mendorong tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen.


Militer AS mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua drone yang dianggap mengancam pelayaran internasional. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sebuah pangkalan udara yang digunakan militer Amerika Serikat.


Ketegangan terbaru juga merembet ke kawasan Teluk. Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya dan mengecam serangan rudal serta drone yang diklaim berasal dari Iran. Militer AS menyebut berhasil mencegat dua rudal balistik Iran yang diarahkan ke pasukan Amerika yang berbasis di Kuwait, tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak AS.


Dengan terhentinya perundingan damai dan meningkatnya ancaman pembukaan front-front baru di kawasan, harapan tercapainya stabilitas di Timur Tengah kembali menghadapi tantangan besar. Para pengamat menilai perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah konflik yang berpotensi berdampak luas terhadap keamanan dan ekonomi global.


Sumber : https://www.arabnews.com/node/2645673/middle-east

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram TriasPolitica.net, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!