MAKASSAR — Inovasi di sekolah kini didorong menjadi solusi atas persoalan nyata yang dihadapi dunia pendidikan. Bukan lagi sekadar karya untuk mengikuti perlombaan atau memenuhi kebutuhan administrasi.
Perubahan teknologi, tuntutan peningkatan mutu pembelajaran, dan kebutuhan menyiapkan lulusan dengan kompetensi abad ke-21 membuat inovasi menjadi kebutuhan bagi setiap satuan pendidikan.
Gagasan itu mengemuka dalam Pendampingan Inovasi Daerah yang digelar Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Barru, Parepare, dan Pinrang di Ruang Rapat Mamminasata, Lantai IV Bappelitbangda Sulawesi Selatan, pada 28-29 Juli 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan kepala sekolah dan tim inovasi dari SMA dan SMK di Kabupaten Barru, Kota Parepare, dan Kabupaten Pinrang.
Fokusnya adalah memperkuat kemampuan sekolah dalam merancang inovasi yang lahir dari kebutuhan di lapangan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, Baharuddin Iskandar, mengatakan sekolah tidak lagi cukup menjalankan pola kerja yang bersifat rutin.
Menurut dia, setiap satuan pendidikan harus mampu mengenali persoalan, menyusun solusi, kemudian mengukur dampak dari perubahan yang dilakukan.
"Tujuan utama pendampingan ini adalah meningkatkan kapasitas satuan pendidikan dalam merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan inovasi yang berdampak nyata terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan. Sekolah harus mampu membaca potensi sekaligus permasalahan yang dihadapi, kemudian menghadirkan solusi yang relevan bagi peserta didik dan masyarakat," kata Baharuddin.
Ia menilai kebutuhan terhadap inovasi semakin mendesak seiring perubahan yang berlangsung di dunia pendidikan.
Digitalisasi berkembang cepat.
Karakter peserta didik terus berubah.
Di sisi lain, masyarakat menuntut layanan pendidikan yang semakin berkualitas.
Namun, menurut Baharuddin, tantangan terbesar bukan terletak pada minimnya gagasan.
Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana ide-ide tersebut dikembangkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Banyak praktik baik di sekolah, kata dia, belum terdokumentasi dengan baik.
Akibatnya, pengalaman tersebut sulit dikembangkan maupun diterapkan oleh sekolah lain.
Keterbatasan anggaran, sarana, prasarana, serta waktu juga masih menjadi hambatan.
Belum lagi budaya kolaborasi antarsekolah yang dinilai belum tumbuh secara optimal.
"Padahal, inovasi dapat dimulai dari perubahan sederhana yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di sekolah dan memberikan manfaat bagi peserta didik," ujarnya.
Dalam pendampingan itu, peserta tidak hanya menyusun dokumen inovasi.
Mereka juga dibimbing mengidentifikasi akar persoalan, menyusun strategi penyelesaian, melaksanakan inovasi, hingga mengukur dampaknya melalui indikator yang terukur.
Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII juga menyiapkan pendampingan lanjutan.
Melalui monitoring, evaluasi, serta forum berbagi praktik baik.
Inovasi yang dinilai berhasil akan didokumentasikan dan disebarluaskan melalui MKKS, MGMP, lokakarya, serta jejaring kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai mitra pendidikan.
Sebanyak 16 inovasi dipresentasikan dalam kegiatan tersebut.
Tema yang diangkat beragam.
Mulai dari penguatan literasi, pembelajaran mendalam, pendidikan karakter, digitalisasi layanan sekolah, pengelolaan lingkungan, pencegahan perundungan, hingga penguatan budaya religius.
Dari Kabupaten Barru, SMAN 4 Barru memperkenalkan Program BERDAYA atau Belajar Reflektif, Dalam, dan Bermakna.
Program yang dikembangkan Kepala SMAN 4 Barru, Hasby, bersama timnya itu dirancang untuk mendorong pembelajaran yang lebih reflektif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik.
Kabupaten Pinrang menghadirkan sejumlah inovasi berbasis literasi, digitalisasi, dan pendidikan karakter.
Di antaranya MASBUK dari SMKN 3 Pinrang, La Macca dari SMAN 9 Pinrang, GELISAH dan Guru Salama' dari SMAN 4 Pinrang, SAGUSAVID dari SMKN 10 Pinrang, serta SI-MASIGA dan SEMPAJANG dari SMAN 10 Pinrang.
Sementara itu, Kota Parepare menampilkan GRAB SMAELI dari SMAN 5 Parepare yang berfokus pada pencegahan perundungan.
SMKN 2 Parepare juga memperkenalkan GEMILANG sebagai inovasi untuk memperkuat budaya anti-kekerasan dan anti-bullying di lingkungan sekolah.
Hasby mengatakan pendampingan tersebut memberi cara pandang baru dalam membangun inovasi di sekolah.
Menurut dia, ukuran keberhasilan tidak ditentukan oleh besarnya program yang dibuat.
Yang lebih penting adalah sejauh mana inovasi mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi sekolah.
"Pendampingan ini membantu kami menyempurnakan inovasi secara lebih sistematis, mulai dari identifikasi masalah, penyusunan strategi, hingga pengukuran dampaknya. Yang paling penting, kami semakin memahami bahwa inovasi harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar program sesaat," katanya.
Ia menambahkan, forum tersebut juga menjadi ruang belajar antarsekolah.
Setiap peserta dapat saling bertukar pengalaman dan mengembangkan praktik baik sesuai karakteristik masing-masing.
Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII berharap pendampingan ini menjadi awal tumbuhnya budaya inovasi di sekolah.
Tidak hanya melahirkan proposal, tetapi juga menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan peserta didik dan masyarakat.
Melalui ekosistem inovasi yang berkelanjutan, kualitas layanan pendidikan diharapkan meningkat sekaligus memperkuat Indeks Inovasi Daerah dan daya saing sumber daya manusia di Sulawesi Selatan.
